“Tugas kami memberikan edukasi dan sosialisasi untuk pencegahan dan pemadaman. Kita edukasi ke semua bahkan sampai ke usia dini. Kami utamakan pencegahan,” tuturnya.
Sekretaris Dinas Damkar Kota Semarang Ade Bhakti Ariawan menambahkan biasanya di lingkungan kerja seperti Pertamina yang memiliki tingkat risiko tinggi, biasanya sudah memiliki standar kualitas keamanan yang cukup tinggi terutama dalam pencegahan kebakaran.
Namun memang dalam kasus SPBU Sriwijaya ia menilai adanya miskomunikasi antara petugas SPBU dengan korban. Namun ia menyebut jika saat ini permasalahan tersebut sudah diselesaikan dengan kekeluargaan.
“Kalau kemarin saya melihat SOP SPBU pasti akan menjauhkan api dari dispenser cuma kemarin mungkin motor sudah ambruk dulu lalu diseret menjauh dispenser nah itu mungkin SOP Pertamina. Terkait penggunaan APAR mungkin itu jadi miskomunimasi tapi yang pasti jalur kekeluargaan sudah ditempuh dan sudah selesai,” jelas Ade.
Ia juga mengingatkan agar pekerja dengan risiko tinggi seperti di SPBU seharusnya sudah memiliki ketrampilan menggunakan APAR. Sehingga ketika ada kejadian kebakaran, maka petugas tidak lagi panik.
“Karyawan SPBU yang berdampingan dengan risiko tinggi maka seharusnya mereka lebih terlatih dan terampil menggunakan APAR,” pungkasnya.




















