“Reklamasi membuat wilayah Semarang relatif lebih kering, tetapi dampaknya justru dirasakan di Demak. Karena itu, Badan Otorita Pantura Jawa bersama Wakil Gubernur mengutamakan Demak lebih dahulu, baru kemudian ke Jepara, Kendal, Pemalang dan daerah lainnya,” ujarnya.
Eisti’anah menambahkan usulan pembangunan tanggul laut dengan skema hybrid sea wall di pesisir Kabupaten Demak telah diterima oleh Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa.
Ke depan, pembangunan hybrid sea wall direncanakan membentang dari Kabupaten Demak hingga Kabupaten Jepara.
Dalam pelaksanaannya, Pemprov Jateng melibatkan pemerintah kabupaten/kota. Badan Otorita Pantura Jawa juga akan membentuk tim-tim lapangan yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah setempat.
“Wilayah pesisir tetap menjadi fokus utama kami, selain penataan drainase perkotaan. Di sisi lain, sektor kesehatan dan pendidikan juga tetap menjadi perhatian, meskipun terdapat penyesuaian anggaran daerah,” ujarnya.
Ia menegaskan penanganan banjir, termasuk banjir rob di Kecamatan Sayung, menjadi salah satu prioritas utama Pemerintah Kabupaten Demak karena menyangkut kebutuhan mendasar masyarakat.
“Usulan ‘giant sea wall’ untuk Sayung memang menjadi fokus kami, karena penanganan rob harus segera dilakukan,” ujarnya. [Ant]




















