“Setiap kecamatan akan mendapatkan akses dan ruang untuk bermain, bertemu, dan diperlakukan setara dengan seluruh warga Kota Semarang,” ujarnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang kota yang inklusif, agar seluruh warga, termasuk kelompok difabel, dapat terlibat aktif dalam kehidupan sosial.
Dalam kesempatan yang sama, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menyampaikan bahwa kegiatan sahur lintas komunitas yang ia jalankan merupakan bagian dari upaya merawat persaudaraan di tengah kemajemukan bangsa.
“Indonesia itu adalah rakyat yang majemuk. Puasa itu mengajarkan akhlak dan budi pekerti yang luhur,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan.
“Lita’arafu, untuk saling mengenal, saling menghormati, saling menghargai, bukan untuk saling bertengkar,” kata Sinta, mengutip pesan yang kerap ia sampaikan dalam berbagai kesempatan sahur lintas komunitas.
Menurutnya, nilai-nilai seperti jujur, adil, sabar, ikhlas, dan saling menghormati menjadi fondasi agar masyarakat dapat hidup berdampingan dalam damai.
Kegiatan sahur tersebut dihadiri unsur Forkopimda, tokoh lintas agama, serta berbagai komunitas disabilitas.
Suasana yang terbangun menunjukkan bahwa kebersamaan di Kota Semarang berjalan dalam ruang yang inklusif dan terbuka bagi semua.
Melalui momentum ini, Pemerintah Kota Semarang menegaskan bahwa toleransi dan inklusivitas menjadi bagian dari arah pembangunan Kota Semarang sebagai rumah bersama.

















