MAJT Teguhkan Peran sebagai Simbol Islam Nusantara

Pendekatan itu dinilai membuat masyarakat lebih mudah menerima Islam karena melihat keluwesan ajarannya.

Menurut Istajib, Islam Nusantara juga memiliki ciri berwawasan kebangsaan dengan komitmen menjaga keutuhan bangsa melalui penguatan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, serta NKRI. Indonesia sebagai negara majemuk, lanjutnya, menuntut adanya sikap saling menghormati antarumat beragama.

Peran MAJT sebagai simbol Islam Nusantara juga terlihat dari keberagaman tamu yang berkunjung. Setiap 1 Syawal atau Idulfitri, sejumlah tokoh lintas agama hadir bersilaturahmi dan bermaafan dengan para kiai di MAJT.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  5 Masjid di Kota Semarang yang Bisa Jadi Tujuan Wisata

Dalam sesi interaktif, seorang mahasiswa Universitas Diponegoro, Ihwan, menanyakan kemungkinan Islam Nusantara menyatukan pemikiran berbagai organisasi kemasyarakatan Islam, termasuk dalam penentuan awal Ramadan dan Idulfitri.

Menanggapi hal itu, Istajib menyatakan perbedaan merupakan rahmat selama tidak menyentuh persoalan mendasar, yakni Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama ajaran Islam.

“MAJT memandang perbedaan sebagai hal yang wajar. Bahkan, perbedaan dapat menjadi ruang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan menggelorakan semangat Islam,” katanya.

Ia menegaskan Islam yang didakwahkan di MAJT adalah Islam yang universal, toleran, moderat, dan adil. ***

Pos terkait