MATASEMARANG.COM – Amerika Serikat secara tersirat mengakui ketangguhan Iran, yang sebelumnya disebutnya bisa ditaklukkan dalam beberapa hari bersama Israel.
Perang saat ini sudah memasuki hari ke-14 dan tidak ada tanda-tanda segera berakhir. Iran terus melancarkan serangan balasan ke Israel dan ke titik-titik di negara Teluk yang dijadikan basis militer AS.
Oleh karena itu Presiden AS Donald Trump bakal melanjutkan operasi militer terhadap Iran setidaknya selama 3 hingga 4 pekan lagi sebelum memutuskan langkah selanjutnya.
Axios, Kamis, mengutip sebuah sumber melaporkan fase selanjutnya diperkirakan akan berfokus pada kampanye berkelanjutan terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk melemahkan kekuatan tersebut hingga titik di mana pemberontakan internal dapat terjadi.
“Akan ada upaya untuk melepaskan kekuatan dari dalam Iran. Mungkin sebuah kota akan jatuh atau sebuah unit militer memberontak,” kata portal berita tersebut mengutip sumber itu.
Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika di Timur Tengah.
Amerika dan Israel awalnya mengklaim serangan mereka itu diperlukan untuk melawan ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran. Namun, mereka segera memperjelas bahwa serangan itu dilakukan karena mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan pembunuhan Khamenei itu sebagai tindak pelanggaran sinis terhadap hukum internasional. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia mengutuk operasi AS-Israel itu dan menyerukan segera dilakukan deeskalasi dan penghentian permusuhan. [Ant]

















