MATASEMARANG.COM – Komika Pandji Pragiwaksono mendadak viral karena pertunjukan bertajuk Mens Rea itu banyak materinya yang menyulut polemik publik.
Di mata pemerhati stand up comedy, materi yang dibawakan Pandji masuk kategori “pinggir jurang”, sedikit saja tergelincir akan membawanya ke delik aduan pidana.
Dalam pertunjukan di Jakarta itu, Pandji mengkritik sejumlah pihak, tidak terkecuali Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menanggapi kontroversi tersebut, peneliti bahasa dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) Rahmat Petuguran menyebut jika humor memang selalu politis.
Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, linguis muda Unnes ini menjelaskan dalam penggunaan humor sebagai alat politik dapat ditemukan di berbagai kebudayaan dan era kekuasaan.
“Humor bisa digunakan oleh penguasa untuk memperkuat dominasi dan hegemoni, tetapi juga bisa digunakan masyarakat tertindas untuk melakukan perlawanan. Bentuknya bisa beragam, dari satir, parodi, sampai anekdot,” ujar Rahmat.
Sifat politis humor ditemukan Rahmat dalam berbagai era humor di Indonesia, dari humor tradisi seperti ketoprak, lenong, dan ludruk, hingga humor modern dan digital berbentuk komedi tunggal (stand up comedy) dan sketsa.
Menurutnya, humor bersifat politis karena diciptakan dari latar belakang sosial-budaya yang juga politis. Seperti produk bahasa atau produk sastra lain, humor berangkat dari kegelisahan dan intensi penciptanya. Kegelisahan tersebut diekspresikan secara kreatif dengan skrip yang mengandung ambiguitas, kontradiksi, dan kejutan.


















