“Humor biasanya ditulis dalam beberapa jenis skrip. Skrip tersebut dikembangkan dari asumsi, pengetahuan umum, dan kegelisahan bersama. Kalau tidak ada ketiga hal itu, humor tidak akan efektif karena tidak relate dengan penikmatnya,” ujarnya.
Bahkan ketika digunakan dalam komunikasi antarpribadi, lanjut Rahmat, humor tetap bersifat politis.
Misalnya, ada humor etnik yang cenderung mendeskreditkan etnik tertentu, ada humor seksis yang menjadikan Perempuan sebagai bahan lelucon, sampai humor politik yang menjadikan tokoh politik sebagai target.
“Humor tidak pernah hanya menjadi candaan. Justru ketika humor diklaim sebagai ‘sekadar candaan’, ‘hanya guyon’, atau ‘just kidding’, sifat politisnya justru makin tampak. Klaim itu sengaja dipakai supaya sifat politis humor tidak hanya satu arah. Sebagai salah satu genre wacana, selama ini humor digunakan oleh pihak yang berkuasa dan pihak pengkritik kekuasaan,” paparnya.
Pada tahun 2024, Rahmat pernah meneliti humor presiden dan menemukan bahwa presiden seperti Sukarno, Gus Dur, SBY, dan Jokowi sama-sama memberdayakan humor untuk mencapai tujuan komunikasinya. Dari penelitian itu ditemukan bahwa Jokowi adalah Presiden yang paling produktif menggunakan humor agresif.
Ia menilai wajar jika Pandji menggunakan humor sebagai bentuk kritik sosial. Selain punya keunggulan emosional, humor jadi alat kritik paling cerdas karena juga punya bobot estetik dan intelektual.
“Pilihan dan gaya humor merepresentasikan kecerdasan penggunanya. Di sisi lain, sikap dan respons penguasa terhadap humor akan membuktikan kecerdasan dan kedewasaan pemerintah sebagai target kritik,” pungkasnya.


















