Posisi Indonesia Terancam “Hilang” di Tengah Perang Iran-AS dan Israel

Menurut Emaridial, kondisi ini bukan sekadar persoalan citra, melainkan memiliki dampak langsung terhadap ekonomi. Ketika reputasi, narasi, dan persepsi terganggu secara bersamaan, kata dia, dampaknya akan terasa dalam bentuk tertundanya investasi asing, meningkatnya biaya pinjaman, hingga potensi keluarnya modal dari dalam negeri.

Di sisi lain, laporan tersebut juga menyoroti tekanan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia melalui konsep Keynesian Triple Squeeze, yaitu kondisi ketika tiga pilar utama ekonomi yakni lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas mengalami tekanan secara bersamaan, berbeda dari krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang dapat berfungsi sebagai penyangga.

BACA JUGA  Ini Biaya Resmi Haji 2026 Berdasarkan Embarkasi

Namun demikian Emaridial menilai Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan yang diakui secara global, antara lain keberhasilan menghimpun pajak ekonomi digital yang menempatkan Indonesia di tiga besar dunia, serta Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu investasi human capital terbesar di kawasan.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Jusuf Kalla Bakal Perkarakan Pihak yang Tuding Dirinya Terlibat Kasus Ijazah Jokowi

Namun, menurut Emaridial, keunggulan-keunggulan ini belum dikomunikasikan secara efektif di tingkat global.

“Di era saat ini, narasi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan faktor yang menentukan arah ekonomi sebuah negara. Ketika sebuah negara tidak mampu mendefinisikan dirinya sendiri, maka dunia tidak akan melihatnya sebagai aktor yang penting,” ucap Emaridial Ulza. [Ant]

Pos terkait