Timur Tengah Makin Berbahaya, Iran Kaji Keluar dari Perjanjian Nonproliferasi Nuklir

MATASEMARANG.COM – Iran kemungkinan menarik diri dari Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT). Wacana ini sedang dibahas di Teheran, menurut laporan media Iran pada Sabtu (28/3).

Badan-badan pemerintah terkait, termasuk parlemen, saat ini sedang mempertimbangkan penarikan tersebut secara “mendesak,” menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency.

Keluar dari NPT berarti sebuah negara melepaskan diri dari ikatan hukum internasional yang melarang pembuatan senjata nuklir.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Trump Marah Besar Dituduh Beri Rp48 Triliun untuk Fasilitas Nuklir Nonmiliter Iran

Di akun media sosial X, Wakil Teheran Malek Shariati mengatakan bahwa “rencana darurat untuk mendukung hak nuklir” Iran memiliki tiga bidang utama.

Itu mencakup rencana keluar dari NPT, pencabutan UU terkait implementasi kesepakatan nuklir Iran 2014, serta dukungan pada perjanjian internasional baru dengan negara-negara sehaluan, termasuk Shanghai dan BRICK yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan lainnya.

Kemungkinan penarikan itu muncul di tengah siaga seluruh kawasan sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

BACA JUGA  Mahatir Dilarikan ke Rumah Sakit karena Jatuh

Meskipun para analis mengatakan AS belum jelas dalam tujuannya dalam perang tersebut, Washington telah lama keberatan dengan pengayaan bahan nuklir Iran hingga mencapai tingkat yang dapat digunakan untuk senjata nuklir.

Iran menanggapi serangan tersebut dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan gangguan pada pasar global dan penerbangan. [Ant/Anadolu]

BACA JUGA  Kekejaman Israel Tuntut RI Lakukan Apa Pun untuk Rakyat Gaza

Pos terkait