5 Hal Unik dalam Dugderan, Tradisi Masyarakat Semarang Sambut Ramadan

Karnaval Dugderan dari Balai Kota menuju Masjid Agung Jawa Tengah (foto: ANT)
Karnaval Dugderan dari Balai Kota menuju Masjid Agung Jawa Tengah (foto: ANT)

MATASEMARANG.COM – Setiap tahunnya, tepat sebelum hilal penanda awal bulan suci Ramadan tampak, Kota Semarang bertransformasi menjadi pusat perhatian budaya melalui tradisi Dugderan.

Festival yang telah berlangsung sejak masa pemerintahan Bupati RMTA Purbaningrat pada tahun 1881 ini bukan sekadar pasar rakyat musiman.

Dugderan adalah cermin sejarah yang menunjukkan bagaimana keberagaman etnis Jawa, Tionghoa, dan Arab dapat berpadu dalam satu harmoni yang indah.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  5 Stasiun di Semarang, Waktu di Sini Berjalan Seolah Lebih Lambat

Kombinasi antara kearifan lokal, sejarah yang panjang, dan kemeriahan pasar rakyat menjadikan momen ini waktu yang sangat direkomendasikan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung.

Melalui Dugderan, kita diajak untuk melihat bagaimana sebuah tradisi mampu bertahan melintasi zaman, sekaligus merayakan keberagaman dalam satu semangat yang sama.

Dugderan bukan hanya sebuah perayaan, melainkan identitas yang memperkuat ikatan sosial masyarakat Semarang.

Berikut adalah lima elemen unik yang menjadi pilar utama kemeriahan Dugderan:

BACA JUGA  5 Rekomendasi Tempat untuk Rayakan Tahun Baru di Kota Semarang

1. Kapal Otok-otok: Edukasi Sains Tradisional

Di tengah serbuan mainan modern, Kapal Otok-Otok tetap menjadi primadona yang tak tergantikan di sepanjang selasar pasar malam Dugderan.

Mainan yang terbuat dari kaleng ini bekerja menggunakan prinsip mesin uap sederhana.

Dengan bantuan kapas yang dibasahi minyak goreng dan disulut api, kapal ini akan bergerak di atas air sambil mengeluarkan bunyi “otok-otok-otok” yang khas.

Kehadirannya menjadi pengingat akan kecerdasan lokal dalam mengemas prinsip fisika menjadi hiburan rakyat yang edukatif bagi anak-anak.

Pos terkait