Akademi ini akan berkonsep seperti pesantren seni, di mana para peserta “nyantri” untuk belajar berbagai hal mulai dari memahami karakter, berlatih dialog, hingga tampil dalam pertunjukan nyata.
“Nanti anak-anak bisa memilih karakter yang ingin mereka perankan, bisa jadi Srikandi, Pandawa, atau tokoh lain. Setelah memahami peran, mereka akan berlatih dan tampil rutin di TBRS setiap minggu,” ujar Agustina.
Nantinya, lanjut Agustina, sekitar 50 anak akan mengikuti pelatihan tahap awal yang dibiayai dengan APBD Kota Semarang. Targetnya, pada Hari Wayang Sedunia tahun depan, para peserta sudah mampu mementaskan satu lakon penuh bersama kelompok Ngesti Pandowo.
“Harapan kami, dari sinilah lahir generasi baru yang akan menjaga api seni perwayangan agar tak padam oleh waktu,” imbuhnya.
Kecintaan terhadap seni wayang juga diwujudkan dengan langkah nyata. Pemerintah Kota Semarang akan merestorasi bangunan Ngesti Pandowo yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Nasional.
Renovasi fisik akan dimulai tahun 2025 ini, dilanjutkan dengan perbaikan interior dan perlengkapan pertunjukan pada tahun depan.
“Baju-baju dan kostum lama akan dirawat sebagai kekayaan heritage. Kami juga akan menyediakan kostum baru agar penampilan tetap menarik dan layak,” kata dia.
Bagi Pemkot, melestarikan wayang bukan hanya menjaga bangunan dan benda, tetapi juga memastikan ilmu dan nilai di baliknya diwariskan ke generasi muda. “Manusia tidak hidup selamanya, tapi ilmu dan tradisi bisa abadi bila diteruskan kepada anak-anak,” imbuhnya


















