Cegah Peredaran Beras Oplosan, Pemkot Semarang Optimalkan Program Srikandi Pangan

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih. (matasemarang.com/Lia Dina)
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih. (matasemarang.com/Lia Dina)

Contohnya, sisa nasi dari hajatan atau acara keluarga bisa diolah kembali menjadi menu bernilai ekonomis seperti bubur Manado, empek-empek, atau bubur talam.

“Jadi kalau kita tanam berarti kita metik sendiri, berarti kita tahu bahwa tidak ada pestisida yang melekat pada sayur-sayur ataupun bahan pangan yang akan kita konsumsi. Kemudian yang pilar keempat adalah stabilisasi. Nah, stabil ini dengan adanya pangan yang tersedia di keluarga ini,” bebernya.

Di tengah maraknya isu peredaran beras oplosan ini, Endang menegaskan jika Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang akan berupaya mencegah peredaran beras oplosan dengan program ini.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Wali Kota Semarang Siapkan Booth UMKM Sambut Festival Layang-Layang Internasional

Diakui Endang, program ini memang sudah ada sebelumnya namun dalam pelaksanaannya memang dinilai belum optimal.

“Program ini sudah ada dari dulu, ya mungkin kolaborasi ini mungkin sudah ada. Cuma kemarin itu mungkin masih belum optimal. Nah, ini kita optimalkan, kita satukan, kita gerakkan lagi,” tuturnya.

Pihaknya beranggapan, dengan menanam sendiri bahan pangan seperti cabai, bayam, kangkung, atau tomat, masyarakat dapat menghemat pengeluaran, mengurangi ketergantungan pasar, dan menjaga asupan gizi.

Sedangkan jika hasil panen berlebih, menurutnya, warga bisa menitipkan hasilnya ke kios pangan yang dibentuk di lingkungan masing-masing untuk dijual kembali dengan harga terjangkau.

Pos terkait