MATASEMARANG.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mengatakan bencana hidrometeorologi di Kota Semarang di dominasi dengan bencana tanah longsor.
Kepala BPBD Kota Semarang Endro P. Martanto mengatakan berdasar data infografis BPBD terakhir, selain tanah longsor, rumah roboh karena angin menduduki peringkat kedua, disusul bencana kebakaran dan banjir.
“Tapi yang cukup membuat kita waspada adalah dampak pergerakan tanah atau tanah longsor,” kata Endro, Senin 2 Maret 2026.
BPBD sendiri telah membentuk Kelurahan Siaga Bencana (KSB) yang ditingkatkan menjadi Kelurahan Tangguh Bencana (Katana).
Relawan dari masing-masing kelurahan di Kota Semarang diberikan pelatihan tanggap bencana, sehingga ketika ada bencana di wilayahnya, relawan Katana bisa langsung memberikan bantuan pertama.
“Itu dibekali tidak hanya pengetahuan tapi juga tata cara evakuasi menghadapi tanah longsor, ada kebakaran, gempa bumi dan banjir,” jelasnya.
Endro menyebut dari 177 kelurahan di Kota Semarang, secara resmi sudah dibentuk 38 Katana. Ia mengatakan karena pembentukan Katana membutuhkan anggaran untuk pelatihan dan pembekalan, maka pihaknya membentuk Katana secara bertahap sesuai dengan kedaruratan suatu wilayah.
“Karena terbentur anggaran juga jadi baru ada 38 Katana. Itu pelatihannya sampai 5 hari isinya pembekalan, pengetahuan dan pelatihan,” terangnya.
Setiap tahunnya, BPBD menargetkan pembentukan empat Katana.
“Pelatihan itu secara masif teranggarkan di Dipa dalam 1 tahun anggaran ada 4 pembentukan Katana tiap tahun,” pungkasnya.


















