MATASEMARANG.COM – Iran sama sekali tidak menggubris ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberi waktu 24 jam agar negeri para mullah itu membuka Selat Hormuz.
Alih-alih melunak menghadapi ultimatum Trump, Iran justru pada hari Minggu (5/4) melakukan serangkaian serangan ke sejumlah infrastruktur industri kimia terafiliasi AS yang ada di sejumlah negara Timur Tengah termasuk Israel.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran memiliki waktu 48 jam untuk mencapai kesepakatan nuklir atau membuka kembali Selat Hormuz.
“Waktu hampir habis — 48 jam sebelum neraka menimpa mereka,” ujar Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social, Sabtu (4/4).
Namun sehari sesudahnya, Minggu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeklaim bahwa angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas industri petrokimia di Israel, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Kuwait.
“Pagi ini, tahap pertama operasi pembalasan dilakukan,” menurut pernyataan IRGC, seperti dikutip stasiun televisi pemerintah Iran.
“Serangan ditujukan terhadap sasaran Zionis dan kepentingan ekonomi AS di kawasan tersebut: kilang minyak di Haifa, infrastruktur gas di UEA, perusahaan petrokimia AS di UEA, perusahaan petrokimia AS di Bahrain, dan infrastruktur petrokimia AS di Kuwait,” imbuh pernyataan itu.
Dua hari lalu Iran juga menembak jatuh pesawat tempur AS F-15 di Iran, yang diakui oleh oleh otoritas AS.
Iran menyerang wilayah Israel dan sejumlah sasaran militer AS di Timur Tengah sebagai balasan atas operasi militer gabungan yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari.



















