MATASEMARANG.COM – Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat adanya peningkatan kasus leptospirosis dalam beberapa tahun terakhir di Ibu Kota Jawa Tengah ini.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang M. Abdul Hakam mengatakan penyakit leptospirosis ini bukan disebabkan oleh virus, melainkan bakteri leptospira.
Diakui Hakam penyakit zoonosis ini memiliki tingkat kematian yang cukup signifikan. Hal ini yang menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kota Semarang.
“Jadi ketika bakteri leptospira masuk ke dalam tubuh manusia, potensi berkembangnya sangat cepat. Risikonya luar biasa karena bisa menyerang organ vital,” kata Hakam, Kamis, 5 Februari 2026.
Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat pada tahun 2023, dari 38 kasus terkonfirmasi positif leptospirosis, 10 orang di antaranya meninggal dunia. Kemudian pada tahun 2024, dari 32 kasus terkonfirmasi, lima orang di antaranya meninggal dunia.
Parahnya, pada tahun 2025, jumlah kasus terkonfirmasi meningkat menjadi 59 kasus dengan delapan orang meninggal dunia.
Diakui Hakam selain tingginya tingkat penularan, angka kematian kasus ini memang cukup besar.
Ia menyebut tingginya kasus leptospirosis ini banyak ditemukan di wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi.
Rendahnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan belum optimalnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) inilah yang juga memperbesar risiko penularan.
“Penyakit ini biasanya terjadi di daerah padat penduduk, PHBS kurang maksimal, dan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan masih rendah,” bebernya.





















