Mereka yang Tersandera Jenama dan Gaya, Bekas Pun Tak Apa

Tak masalah, tentu. Hanya saja, ada kecenderungan baru yang makin terasa: penampilan menjadi ritual, gaya menjadi ibadah, dan citra menjadi dewa kecil yang harus terus diberi persembahan. Bahkan kalau persembahannya adalah baju bekas yang dulunya telah dibuang orang lain.

Tapi begitulah zaman ini. Kita hidup dalam rentang absurd antara ingin hemat dan ingin terlihat elit. Antara ingin jujur dan ingin tampil mulus. Thrifting hanya kebetulan berada di tengah-tengah dilema itu.

BACA JUGA  Kapan Libur Iduladha 1446 H? Catat Momen Long Weekend di Awal Juni 2025 Berikut Ini

Fenomena ini membuat thrifting bukan lagi sekadar urusan alternatif belanja, melainkan panggung sosial yang memantulkan betapa manusia modern semakin lihai menegosiasikan citra. Setiap potong pakaian adalah narasi kecil tentang siapa kita ingin terlihat hari ini.

Bacaan Lainnya

Nilai diri

Di tengah gemerlap baju bekas dan hiruk-pikuk tren, kita diingatkan satu hal sederhana bahwa nilai diri tidak pernah diukur dari apa yang menempel di tubuh kita.

BACA JUGA  Interaksi Hangat Keluarga Jauhkan Remaja dari Kesepian

Jaket mahal, kaus kupluk langka, sepatu bermerek, semuanya bisa dibeli, tapi itu tidak otomatis membuat siapa pun lebih berharga, lebih pintar, atau lebih berarti.

Thrifting boleh jadi cara cerdas mengekspresikan gaya, tapi identitas sejati tidak bisa dipinjam dari lemari orang lain.

Maka, mungkin saatnya sedikit menoleh ke dalam negeri. Produk lokal, yang sering luput dari sorotan, diam-diam terus berinovasi: bahan lebih nyaman, desain kreatif, harga bersahabat, dan cerita yang sarat dengan karakter.

BACA JUGA  Pemerintah Tutup Lapak Penjual Pakaian Impor Bekas di Lokapasar

Mereka bukan sekadar alternatif. Mereka adalah wujud nyata kemampuan dan kreativitas bangsa yang patut diapresiasi.

Pos terkait