“Apabila NU adalah misbah yang ingin menyinari sekitar, maka misykatnya adalah Indonesia. Tidak mungkin kita berpikir tentang NU tanpa sekaligus berpikir dan bertindak untuk Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan peringatan satu abad NU memiliki makna ganda. Dua tahun lalu, NU telah memperingati satu abad berdasarkan kalender Hijriah, sementara tahun ini peringatan 100 tahun dilakukan berdasarkan kalender Masehi.
Selama satu abad perjalanan sejarahnya, Gus Yahya menegaskan NU tidak pernah bergeser dari semangat dan idealismenya, yakni menjadikan NKRI sebagai kubu perjuangan dan markas besar untuk membangun peradaban yang mulia bagi seluruh umat manusia.
“Semoga visi dan idealisme ini senantiasa menghidupi batin kita semua, menyalakan api semangat di dada seluruh kader dan anak bangsa Indonesia,” kata dia. [Ant]





















