MATASEMARANG.COM – Pakaian terbuka bukan menjadi pemicu utama terjadinya kekerasan seksual terhadap perempuan. Psikolog klinis Unit Pelaksana Teknis Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak DKI Jakarta Noridha Weningsari menyatakan hal ini, Kamis.
Dalam sebuah pameran yang memperlihatkan pakaian-pakaian korban kekerasan seksual, sebagian besar justru pakaian tertutup.
“Bahkan kami yang menangani kasus kekerasan pada perempuan dan anak, banyak korban kekerasan seksual itu pakai kerudung. Pakai jilbab, pakai seragam,” ujar Noridha.
Objektibikasi Perempuan
Oleh karena itu, menurut dia, kekerasan seksual bukan sesuatu yang terjadi karena pakaian.
“Akan tetapi, adanya di persepsi atau dalam pikiran yang mengobjektivikasi perempuan,” katanya.
Di negara-negara Barat, sebagian perempuan mengenakan pakaian terbuka, namun amat jarang mengalami kekerasan seksual.
“Mau pakai hijab, bercadar, atau pakaian terbuka sekalipun, kalau pikirannya tidak ke arah seksualitas, itu tidak akan terjadi kekerasan seksual,” katanya.
Dengan kata lain, cara berpakaian sebenarnya tidak memengaruhi atau tidak meningkatkan risiko seseorang mengalami kekerasan seksual.
Ini Soal Persepsi
“Ini soal persepsi. Apalagi yang terjadi kebanyakan kekerasan seksual, itu 80 persen pelakunya orang yang korban kenal,” kata Noridha.
Ketua Bidang I Pengembangan Profesi dan Standardisasi Praktik Psikologi Forensik, Pengurus Pusat Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (Apsifor) itu menyatakan, “Ini yang kemudian menguatkan bahwa cara berpakaian tidak sepenuhnya berpengaruh.”
Merujuk Survei Pengalaman Hidup Anak Daerah (SPHAD) tahun 2024, angka kekerasan fisik dan/atau seksual terhadap anak dan remaja menurun. Pada tahun 2024 tercatat sebesar 13,56 persen, turun dibanding tahun sebelumnya sebesar 39,64 persen. (Ant)

















