Pasar Imlek dan Pasar Dugderan Wujud Keberagaman yang Harmonis bagi Warga Semarang

Wali Kota Ssemarang Hadiri gelaran Tuk Panjang di Pasar Imlek Semawis. (matasemarang.com/Lia dina)
Wali Kota Ssemarang Hadiri gelaran Tuk Panjang di Pasar Imlek Semawis. (matasemarang.com/Lia dina)

Kematangan sosial yang organik ini pun mulai menarik perhatian dunia internasional. Agustina mengungkapkan bahwa langkah penataan kawasan cagar budaya seperti Pecinan, Kampung Melayu, hingga Bustaman telah mendapat respon positif dari Duta Besar Prancis yang berencana mengarahkan wisatawan mancanegara untuk menjadikan kampung-kampung tematik di Kota Semarang sebagai destinasi utama.

“Kawasan Pecinan ini sudah siap menjadi destinasi wisata global. Kita ingin event seperti ini terus hidup dan tumbuh makin berkualitas. Ketika kita merawat budaya, ekonomi kita bergerak, kawasan cagar budaya makin hidup, dan generasi muda akan memiliki kebanggaan terhadap kotanya sendiri,” katanya.

BACA JUGA  SDN Bugangan 02 Semarang Tak Penuhi Kuota Meski Sudah Buka SPMB Lanjutan, Ini Penyebabnya

Momentum bulan ini pun terasa kental dengan nuansa spiritualitas yang unik. Bertemunya perayaan Imlek 2577 dengan persiapan bulan Ramadan 1447 Hijriah serta masa Prapaskah umat Kristiani menciptakan sebuah simfoni religi yang langka.

Bacaan Lainnya

Fenomena warga dari berbagai keyakinan yang menjalankan ibadah puasa dalam waktu yang bersamaan dipandang sebagai puncak keharmonisan sosial di Kota Semarang.

BACA JUGA  Muncul Pulau Sampah, Wali Kota Semarang Cari Tokoh Sentral Tambakrejo

“Inilah Semarang, kita mendapatkan momentumnya. Ada tiga agama yang menjalani persiapan hari besar bersama-sama dalam sebuah simfoni spiritual yang asri. Doa kita bersama, semoga Semarang selalu menjadi rumah yang teduh bagi siapa pun yang tinggal dan datang ke kota ini. Kuda datang, sukses menjelang,” pungkasnya.

Pos terkait