Politik Trah yang Kian Dianggap Lumrah

Dinastil politik
Ilustrasi dinasti politik. Freepik

Namun kala berpidato di depan ratusan kader PSI di Makassar, Jokowi berubah menjadi singa  podium. Ekspresi wajah dan pilihan kata-katanya menyiratkan ambisi besar. Ia membakar kader PSI agar mati-matian memenangkan PSI, partai yang dua kali ikut Pemilu: 2019 dan 2024, gagal menempatkan wakilnya di DPR RI.

Bahkan saat berpidato, Jokowi berkata lugas siap blusukan hingga ke kecamatan-kecamatan demi kejayaan PSI.

Politik Trah

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Registrasi Biometrik Nomor Seluler, Matinya Anonimitas?

Perjalanan politik Indonesia memang sarat dengan politik dinasti atau trah. Kita bisa melihat betapa banyak tokoh politik di eksekutif dan legislatif masih punya pertalian kerabat dengan penguasa. Partai politik dan penguasa boleh berganti, namun wajah-wajah lama–yang masih sedarah dengan politikus lawas–kerap muncul setiap musim baru. Boleh dibilang trah politik sudah menjadi wajah politik negeri ini. Dinasti politik ini tak hanya di pusat, di daerah-daerah juga sama.

Pun demikian dengan trah Jokowi. Sebelum Kaesang dinobatkan jadi Ketua Umum PSI, sudah ada menantunya, Bobby Nasution, yang jadi Wali Kota Medan lalu menjadi Gubernur Sumatra Utara. Lantas yang bikin pergunjingan hingga hari ini adalah Gibran Rakabuming Raka, yang menjadi wakil presiden pada usia muda, yang dibuka jalannya melalui putusan Mahkamah Konstitusi.

BACA JUGA  Peran Media Arus Utama di Era Fabrikasi Kebenaran

Orasi Jokowi di Rakernas PSI, partai yang dinakhodai anaknya, Kaesang, kian menegaskan bahwa politik trah kian dianggap lumrah.

Jauh sebelumnya publik sudah menyaksikan sosok-sosok pertalian sedarah di pucuk kekuasaan dan puncak partai politik.

Pos terkait