MATASEMARAMG.COM – Pada akhir November 2025, malapetaka banjir bandang dan tanah longsor menerjang Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Bencana ini menelan korban jiwa setidaknya 181 orang dan 76 lainnya dilaporkan hilang.
Dampak bencana tersebut memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka; tercatat sekitar 15.300 penduduk sempat mengungsi, meski sebagian kembali setelah banjir surut. Hingga awal Desember, masih terdapat sekitar 6.206 jiwa yang bertahan di pos-pos pengungsian yang tersebar di lima kecamatan di Agam. Sejak awal Desember 2025, hujan berintensitas tinggi juga terus mengguyur wilayah Agam.
Curah hujan yang turun selama berhari-hari itu memicu banjir dan longsor susulan di sejumlah titik, merusak permukiman warga, memutus akses jalan antar nagari, serta melumpuhkan aktivitas ekonomi dan pelayanan publik. Kondisi ini memaksa sebagian warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman, sementara yang lain bertahan di rumah dengan keterbatasan logistik dan akses layanan kesehatan.
Di tengah situasi darurat ini, berbagai masalah kesehatan mulai bermunculan: mulai dari luka-luka akibat bencana, infeksi saluran pernapasan (ISPA), gangguan pencernaan, hingga terputusnya pengobatan penyakit kronis. Pada kondisi inilah kehadiran tim medis sukarelawan menjadi krusial, memberikan pertolongan kesehatan sekaligus harapan bagi masyarakat terdampak.
Tim Relawan Medis dan Posko Lapangan
Tim medis sukarelawan yang diterjunkan ke Kabupaten Agam terdiri atas 10 orang dokter residen lintas disiplin, sesuai dengan beragamnya kebutuhan layanan kesehatan di lokasi bencana. Komposisi tim ini mencakup dua residen anestesi, dua residen bedah, tiga residen neurologi, serta masing-masing satu residen psikiatri, obstetri & ginekologi, dan penyakit dalam.


















