Oleh Abdul Hakim
MATASEMARANG.COM – Langit dini hari itu seperti tak memberi tanda apa pun. Waktu berjalan biasa, hingga kabar itu datang memecah sunyi: Zulmansyah Sekedang berpulang pada Sabtu, 18 April 2026, akibat serangan jantung. Ia berpulang pada usia 54 tahun.
Kepergian itu terasa mendadak, tetapi jejak yang ditinggalkan tidak pernah singkat. Di balik sosok yang dikenal tenang, tersimpan perjalanan panjang seorang organisator, jurnalis, sekaligus penjaga muruah profesi.
Ia bukan tipe pemimpin yang gemar berada di pusat sorotan. Justru dari ketenangan itu, lahir keteguhan yang mengikat banyak simpul dalam tubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Dalam fase ketika organisasi sempat diguncang konflik internal, kehadirannya menjadi salah satu jangkar yang menjaga arah.
Kepergian ini bukan sekadar kehilangan personal. Ia membuka ruang refleksi tentang bagaimana dunia pers Indonesia memaknai kepemimpinan, integritas, dan masa depan jurnalisme di tengah tekanan zaman.
Legawa
Salah satu sisi paling menarik dari perjalanan Zulmansyah adalah sikap legawa yang jarang ditampilkan secara eksplisit, tetapi terasa dalam setiap keputusan penting. Dalam dinamika pascakonflik internal PWI, ia berada di titik krusial ketika organisasi membutuhkan lebih dari sekadar figur kuat atau figur yang mampu meredakan.
Momentum Kongres Luar Biasa 2024 menjadi titik balik. Saat itu, organisasi berada dalam ketegangan, bahkan sempat diwarnai perpecahan struktural. Dalam situasi seperti itu, pilihan untuk berkompromi sering kali dianggap sebagai kelemahan, namun Zulmansyah menunjukkan sebaliknya.

















