Keberangkatan tim dilakukan pada hari Rabu, menggunakan penerbangan komersial Batik Air dari Semarang menuju Padang, menandai awal misi kemanusiaan yang penuh tantangan.
Setibanya di Sumatera Barat, tim segera mempersiapkan posko sebagai basis operasi yang sekaligus difungsikan sebagai tempat tinggal selama tiga hari ke depan. Posko tersebut berupa rumah kayu sederhana dengan hanya satu kamar mandi, sehingga seluruh aktivitas pribadi anggota tim harus dilakukan secara bergantian. Meskipun fasilitas serba terbatas, hal itu tidak mengurangi semangat tim yang tetap solid dan siaga untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat terdampak.

Hari Pertama: Koordinasi, Pembagian Tugas, dan Tantangan Akses
Pada hari pertama bertugas, tim medis sukarelawan Undip terlebih dahulu berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Agam. Langkah ini penting untuk memperbarui data jumlah penyintas yang membutuhkan bantuan medis serta memastikan wilayah-wilayah terdampak yang masih dapat dijangkau.
Rencana awal untuk mengunjungi Nagari Koto Alam dan Kecamatan Palembayan sempat mengalami kendala karena adanya kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke daerah terdampak pada hari itu. Sejumlah akses jalan terpaksa ditutup demi alasan keamanan selama kunjungan Presiden, sehingga tim relawan harus menyesuaikan rencana.
Akhirnya diputuskan tim dibagi menjadi dua kelompok: satu tim bergerak menuju posko kesehatan di Kelurahan Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, sementara tim lainnya dialihkan untuk melanjutkan pelayanan ke Kecamatan Malalak setelah ada laporan bahwa wilayah Malalak mengalami bencana susulan.





















