Misi Kemanusiaan Tim Medis FK Undip di Sumatra Barat Pascabanjir dan Longsor 2025

Sementara itu, di Jorong Lambeh, sekitar 53 pasien mendapat pelayanan serupa, mencakup penanganan luka-luka ringan, penyakit kulit akibat sanitasi yang buruk, hingga pemeriksaan lanjutan bagi penyintas dengan penyakit kronis.

Di sisi lain, tim kedua yang bergerak ke Koto Alam diarahkan menuju posko pengungsian di SD Negeri 05 Kayu Pasak. Lokasi ini sebelumnya sempat dikunjungi oleh Presiden Prabowo Subianto, yang bahkan menyempatkan diri mencicipi nasi goreng dan telur ceplok buatan dapur umum posko pengungsi tersebut. Di posko Kayu Pasak ini, jumlah pasien medis yang ditangani tim relawan relatif lebih sedikit, hanya sekitar 15 pasien. Kemungkinan, layanan kesehatan dasar sudah lebih dulu menjangkau wilayah ini melalui bantuan dari TNI dan Polri. Namun, kebutuhan akan dukungan psikososial justru cukup tinggi.

BACA JUGA  Registrasi Biometrik Nomor Seluler, Matinya Anonimitas?

Tercatat sekitar 15 orang dewasa dan 30 anak-anak antusias mengikuti sesi pendampingan psikososial yang digelar tim. Kegiatan tersebut meliputi trauma healing melalui permainan untuk anak-anak, konseling singkat dan Psychological First Aid untuk orang dewasa, serta aktivitas kelompok untuk memulihkan kondisi psikologis warga. Hal ini menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada kesehatan fisik, tetapi juga harus memperhatikan kesehatan mental dan emosional para penyintas.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Seruan Kesadaran Ekologis dari Bencana Sumatra Barat

Hari Ketiga: Layanan Lanjutan dan Penjangkauan Baru

Pada hari ketiga, tim sukarelawan fokus pada keberlanjutan layanan medis dan menjangkau kasus-kasus yang lebih kompleks. Tim yang sebelumnya bertugas di Jorong Munthi memutuskan menginap di Puskesmas Palembayan pada malam harinya, agar dapat melanjutkan pelayanan sejak pagi berikutnya tanpa terlambat.

Pos terkait