Perjalanan menuju Malalak penuh perjuangan, memakan waktu sekitar dua setengah jam akibat kerusakan jalan yang parah, tertimbun lumpur dan material longsor. Beberapa titik hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki menggunakan sepatu bot karena kendaraan tidak bisa lewat. Bahkan, sebuah jembatan penghubung di rute tersebut putus total, memaksa tim mencari jalur alternatif agar bisa mencapai lokasi pelayanan di Malalak.
Di Kelurahan Maninjau, tim sukarelawan dihadapkan pada dimensi lain dampak bencana, yaitu masalah kesehatan jiwa di masyarakat. Salah satu agenda tim psikiatri pada hari itu adalah mengunjungi seorang pasien dengan skizofrenia yang dipasung pada bagian tungkai oleh keluarganya.
Pasien tersebut sebelumnya dipasung karena riwayat perilaku membahayakan yang pernah nyaris melukai seorang anak kecil hingga cedera berat. Untuk mencapai rumah pasien, tim psikiatri harus melewati area bekas longsoran yang dipenuhi batu-batu besar, batang pohon, dan material longsor lainnya — pemandangan yang menyiratkan beratnya akses menuju masyarakat terdampak di pelosok.
Namun setibanya di lokasi, tim mendapat informasi bahwa pasien skizofrenia tersebut sudah dievakuasi terlebih dahulu ke tempat yang lebih aman oleh pihak keluarga. Situasi ini menjadi pengingat bagi tim bahwa bencana tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga dapat memperburuk persoalan kesehatan jiwa dan sosial yang telah lama ada di tengah masyarakat. Kasus pemasungan karena gangguan jiwa, yang seharusnya mendapat penanganan medis, menjadi makin kompleks penanganannya ketika bencana terjadi dan akses layanan semakin sulit.
Hari Kedua: Pelayanan Medis di Palembayan dan Koto Alam





















