MATASEMARANG.COM – Perayaan Iduladha di Indonesia biasanya dibarengi dengan membakar sate bersama keluarga dan kerabat.
Namun di balik kepulan asap beraroma gurih tersebut, ada satu persoalan ekologis dan keselamatan yang kerap luput dari ruang kesadaran publik, yaitu limbah tusuk sate.
Bagi sebagian besar masyarakat, sebatang bambu runcing berukuran sekitar 20 sentimeter dianggap sebagai residu sepele.
Akibatnya, usai daging dilahap, tusuk sate kerap dilempar begitu saja ke dalam kantong plastik tercampur, atau bahkan berserakan di ruang publik.
Padahal, jika dikalkulasi dari jutaan orang yang merayakan Iduladha secara serentak, akumulasi limbah tajam ini menyimpan potensi bahaya yang masif.
Secara kasat mata, ancaman utama dari pembuangan tusuk sate secara sembrono adalah risiko tusukan pada tangan atau kaki kita, keluarga, kerabat hingga petugas kebersihan.
Namun di skala yang lebih luas, aroma daging yang masih menempel pada tusuk sate menjadi daya pikat luar biasa bagi kucing, anjing, atau burung.
Hewan-hewan ini kerap mengais tempat sampah dan tanpa sengaja menelan atau mengalami luka tusuk fatal pada organ pencernaan mereka.
Ujung limbah tusuk sate yang runcing juga mudah merobek kantong sampah plastik hingga membuat sampah domestik lainnya tercecer ke jalanan, memicu bau tak sedap, dan mengurangi estetika lingkungan.
Solusi Dekomposisi di Tingkat Domestik
Kabar baiknya, tusuk sate berbahan dasar bambu atau kayu merupakan material organik yang bersifat dapat terurai.
Kuncinya terletak pada manajemen pembuangan di hulu, yakni dari dapur kita sendiri.


















