Oleh Mayjen TNI (Purn) Fulad *
MATASEMARANG.COM – Dalam doktrin militer mana pun di dunia, panglima tertinggi merupakan jantung strategi perang sekaligus simpul terakhir dalam rantai komando, tempat setiap keputusan final diambil.
Namun, laporan yang beredar pada pertengahan April 2026 seputar konflik Iran vs Amerika Serikat membalik logika tersebut: Presiden Donald Trump justru “dikucilkan” dari Situation Room Gedung Putih oleh staf militernya sendiri.
Bukan karena kudeta. Bukan karena makar. Namun, karena para jenderalnya menilai bahwa kehadirannya justru mengganggu operasi.
Sebagai seorang yang pernah menjalani masa dinas di lapangan dan juga di meja diplomasi PBB, saya tidak bisa tidak prihatin. Ini bukan soal perbedaan pendapat taktis. Ini adalah krisis kepercayaan yang sangat dalam antara unsur sipil dan militer di tengah perang terbuka.
Membahayakan Penyelamatan
Pada 19 April 2026, The Wall Street Journal melaporkan bahwa para ajudan militer AS sengaja menjauhkan Presiden Trump dari Situation Room saat operasi penyelamatan pilot pesawat F-15 yang ditembak jatuh Iran tiga hari sebelumnya. Alasannya klasik, tapi mengerikan: “ketidaksabarannya tidak akan membantu.”
Klaim ini tidak berdiri sendiri. France 24 dan CNN, dalam laporan terpisah pada 20 April 2026, mengonfirmasi bahwa para pejabat militer AS khawatir perilaku Presiden yang mudah berubah dan ledakan amarahnya akan membahayakan misi penyelamatan. Sumber-sumber itu bahkan menyebutkan bahwa Trump berteriak kepada stafnya “selama berjam-jam”.
















