Ketika Kata-kata Panglima Tertinggi Jadi Amunisi Musuh

Untuk Indonesia, pesan saya sederhana: jangan biarkan sistem kita menoleransi pemimpin yang tak layak memegang komando hanya karena ia kuat secara politik. Sebab, yang membayar harga tertinggi adalah prajurit muda di garis terdepan; mereka yang gugur bukan karena musuh, melainkan karena panglimanya sendiri telah menjadi sumber bahaya.

Pada akhirnya, dari kasus Donald Trump, kita belajar bahwa musuh terbesar sebuah bangsa bukanlah rudal hipersonik atau jet tempur siluman. Musuh terbesar adalah pemimpin yang terus bertahan setelah seluruh rantai komando dan akal sehat berbisik: Dia lebih berbahaya daripada musuh.

BACA JUGA  Trump-Mamdani, Dulu Saling Serang Kata, Sekarang Sekata

*) Mayjen TNI (Purn) Fulad, Penasihat Militer Republik Indonesia untuk PBB (2017–2019)

Bacaan Lainnya

Pos terkait