Dalam bahasa militer yang halus, tindakan menjauhkan panglima dari ruang komando berarti: “Komandan kami justru menjadi risiko operasional.”
Bayangkan kontradiksi ini: Seorang panglima tertinggi seharusnya menjadi force multiplier, pengganda kekuatan. Namun dalam kasus ini, Presiden AS dianggap sebagai liability, beban yang justru membahayakan nyawa prajuritnya sendiri.
Saya pernah bertugas di medan konflik. Saya tahu beratnya tekanan. Namun, ketika para perwira lapangan lebih memilih mematikan akses panglima daripada menyelamatkan misi, itu pertanda bahwa struktur komando telah membusuk dari puncak.
Kata-kata Jadi Amunisi bagi Musuh
Tidak cukup sampai di situ. Di luar tembok Gedung Putih, Presiden Trump mengeluarkan klaim-klaim kontradiktif yang dengan mudah dipatahkan oleh data intelijen Pentagon dan pernyataan resmi Iran.
Dia bilang Iran “setuju dengan segalanya”. Iran langsung membantah.
Dia bilang angkatan laut Iran “hancur total”. Intelijen AS melaporkan sebaliknya.
Dia bilang Paus mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir. Itu tidak pernah terjadi.
Dia mengklaim bahwa J.D. Vance sedang dalam perjalanan ke Pakistan, padahal Vance baru akan berangkat keesokan harinya.
Saya tidak ingin terjebak dalam kata-kata kasar. Tapi dalam bahasa militer yang jujur, pola ini tidak bisa disebut sekadar “salah ucap” atau “kekhilafan”. Ini adalah disinformasi komando, sebuah pola di mana panglima tertinggi secara berulang menyampaikan klaim yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Dalam perang modern, informasi adalah amunisi. Ketika panglima tertinggi menyebarkan informasi yang salah bahkan tentang fakta paling mendasar sekalipun, maka ia tidak hanya membingungkan rakyatnya sendiri. Ia juga memberi senjata informasi kepada musuh untuk membongkar kredibilitas negaranya di mata dunia.
















