Ketika Kata-kata Panglima Tertinggi Jadi Amunisi Musuh

Iran dengan mudah berkata kepada dunia: “Lihat, presiden mereka bahkan tidak tahu apa yang terjadi di medan tempurnya sendiri.”

Menghormati Lawan, Tetap pada Pendirian

Saya sadar sepenuhnya bahwa para pendukung Presiden Trump akan berargumen bahwa ia adalah pemimpin disruptif yang tidak takut melawan birokrasi militer yang lamban dan korup. Saya hormati argumen itu. Dalam banyak kasus, guncangan terhadap birokrasi memang diperlukan.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Mahatir Dilarikan ke Rumah Sakit karena Jatuh

Namun, dalam urusan komando perang, “disrupsi” tidak boleh mengorbankan akurasi intelijen dan keselamatan prajurit. Ada batas tegas di mana inovasi berubah menjadi bahaya. Ketika seorang panglima tertinggi tidak lagi dipercaya oleh jenderal-jenderalnya sendiri untuk duduk di ruang komando, kita tidak sedang membicarakan “gaya kepemimpinan yang berbeda”. Kita sedang membicarakan kegagalan fungsi komando.

Konflik Sipil-Militer yang Berbahaya

Saya bukan pendukung partai mana pun di Amerika. Saya adalah tentara yang sudah pensiun. Namun, dalam seluruh karier saya, saya diajarkan bahwa hubungan sipil-militer yang sehat adalah fondasi demokrasi mana pun.

BACA JUGA  China-Jepang Makin Memanas

Yang terjadi di Washington saat ini bukan hubungan yang sehat, tapi civil-military gap dalam bentuk paling akut yang pernah saya lihat dalam catatan aliansi NATO sekalipun.

Ketika para jenderal lebih memilih mengunci panglima dari ruang komando, dan ketika panglima lebih sibuk mengarang narasi di media sosial daripada membaca laporan intelijen, maka yang kalah bukanlah Demokrat atau Republik. Yang kalah adalah disiplin komando dan nyawa prajurit Amerika yang bertempur di Timur Tengah.

Pos terkait