Ketika Kata-kata Panglima Tertinggi Jadi Amunisi Musuh

Peringatan untuk Indonesia dan Dunia

Saya menulis opini ini bukan untuk membenci Donald Trump. Saya menulis karena Indonesia dan dunia harus belajar dari keruntuhan etika kepemimpinan ini.

Kita boleh punya presiden yang keras. Kita boleh punya presiden yang kontroversial. Tetapi kita tidak boleh memiliki panglima tertinggi yang: Pertama, tidak bisa dipercaya kata-katanya; Kedua, dijauhi oleh staf militernya sendiri dalam operasi perang; Ketiga, lebih membahayakan pasukannya daripada musuh di seberang sana.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Trump Kecewa Berat Sekutunya Tolak Kirim Kapal Penyapu Ranjau ke Selat Hormuz

Sebagai bangsa yang pernah mengalami krisis kepemimpinan di masa lalu terutama pada pergantian kekuasaan yang tidak mulus, Indonesia harus belajar: jangan biarkan panglima tertinggi kita, siapa pun dia, menjadi sumber bahaya terbesar bagi prajuritnya sendiri.

Karena, ketika komando rusak dari puncak, yang mati di lapangan adalah anak buah kita. Bukan politisi di balik meja kayu mahoni. Bukan para staf di ruang ber-AC. Tetapi para prajurit muda yang hanya menjalankan sumpah setia kepada bangsa dan kepada pemimpinnya.

BACA JUGA  Mereka yang Tersandera Jenama dan Gaya, Bekas Pun Tak Apa

Jika Amerika Serikat, dengan doktrin militer terbaik dan sistem check and balance yang paling matang di dunia, bisa mengalami krisis ini, maka negara mana pun bisa mengalaminya.

Saya menutup opini ini dengan kegelisahan seorang pensiunan yang pernah melihat sendiri bagaimana keretakan rantai komando merenggut nyawa. Apa yang terjadi di Gedung Putih bukanlah anomali taktis. Ini adalah kegagalan sistemik: seorang panglima yang justru menjadi force divider, pemecah kekuatan di saat negaranya membutuhkan persatuan komando.

Pos terkait