Ludruk Menolak Mati di Simpang Zaman

Oleh Abdul Hakim

MATASEMARANG.COM – Riuh tawa pecah di sebuah panggung sederhana di sudut kota. Seorang pelawak melontarkan parikan, disambut celetukan khas yang mengundang gelak penonton. Di sela humor itu, terselip kritik sosial yang tajam, kadang getir, namun selalu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Itulah ludruk, seni pertunjukan khas Jawa Timur yang lahir dari rakyat, tumbuh bersama rakyat, dan sejatinya berbicara untuk rakyat.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Pertarungan Panjang Menaklukkan Banjir Kota Semarang

Di Kota Surabaya, ludruk bukan sekadar tontonan. Ia adalah cermin sosial, ruang ekspresi, sekaligus medium komunikasi yang pernah begitu kuat pada masanya.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan selera hiburan, eksistensi ludruk kini berada di persimpangan, yakni antara bertahan sebagai warisan atau bertransformasi menjadi bagian dari masa depan.

Pertanyaannya, bukan lagi apakah ludruk masih hidup, tetapi sejauh mana ia mampu beradaptasi, tanpa kehilangan jiwanya.


Romantisme dan Realitas

Sejarah mencatat, ludruk pernah menjadi primadona hiburan masyarakat urban Surabaya. Pada dekade 1970 hingga 1990-an, pertunjukan ludruk berlangsung hampir setiap malam di berbagai panggung, termasuk di kawasan taman hiburan rakyat (THR).

BACA JUGA  Belanja, Pamer, Buang

Lakon-lakon, seperti “Sarip Tambak Oso” menjadi legenda yang tak lekang oleh waktu, mengisahkan perlawanan rakyat kecil dengan bahasa yang lugas dan membumi.

Kini, lanskap itu berubah drastis. Modernisasi membawa ragam hiburan baru yang lebih cepat, instan, dan visual. Televisi, media sosial, hingga platform digital menggeser pola konsumsi masyarakat. Ludruk, dengan durasi panjang dan format tradisionalnya, perlahan kehilangan panggung reguler.

Pos terkait