Oleh Aditya Ramadhan
MATASEMARANG.COM – Bosan sekali rasanya ketika menemukan sebuah topik yang menarik di media sosial, lalu membacanya, berpikir sejenak, dan menyadarinya itu adalah tulisan karya AI, kecerdasan imitasi.
Hal semacam itu sering kali ditemukan dalam sebuah utas, video pendek vertikal, atau bahkan hanya sekadar takarir. Rasanya kosong. Tulisan robot sangat berbeda dengan tulisan manusia. Kecerdasan imitasi tak berjiwa, maka karya mereka tidak ada nyawanya.
Walau mungkin pesan yang disampaikan itu memang benar adanya, didukung oleh pengetahuan AI yang selalu diperbarui, atau bahkan dilapisi oleh data Google yang tak ada habisnya seperti Gemini. Tapi, pada noktah itu proses berpikir manusia berhenti.
AI secara kodrati adalah alat bantu manusia, bukan pengganti berpikir. Sam Altman, salah satu pendiri OpenAI, tidak meluncurkan Chat Generative Pre-trained Transformer hanya sekali, lalu membiarkan kecerdasan imitasi yang akrab di telinga sebagai GPT itu berkembang dan berevolusi dengan sendirinya. Altman dan timnya terus berpikir untuk mengembangkan versi terbaru Chat GPT.
Lalu, Elon Musk tidak membuat Grok untuk melanjutkan proyek Space X atau mengembangkan seri terbaru kendaraan Tesla. Justru, Musk dan timnya yang terus berpikir untuk mengembangkan Grok seperti apa, agar bisa disematkan dalam kepala Optimus, robot humanoid buatan Tesla.
Tapi sebaliknya, AI yang bersanding dengan kemalasan berpikir secara perlahan akan menumpulkan nalar yang menjadi ciri utama kecerdasan manusia.


















