Dan hal itulah yang kini sering kali terlihat di jagat maya.
Jawaban AI selalu berpola. Bagi yang terbiasa “ngobrol” dengan AI akan tahu mana manuskrip yang betul-betul hasil berpikir manusia, dan mana yang dengan terang ditulis oleh robot. Banyak-banyaklah “berteman” dengan berbagai macam AI, kelak akan tahu sendiri perbedaannya.
Lebih buruk lagi, fasilitas yang memanjakan dari AI ini tidak cukup sampai pada konten media sosial, tapi telah menjuntai ke institusi yang disebut Pilar Keempat Demokrasi: media massa.
Tidak salah. Sungguh sama sekali tidak salah. Menggunakan AI dalam sebuah pekerjaan, apapun itu, sama halnya seperti seorang insinyur teknik sipil menggunakan kalkulator dalam menghitung presisi bangunan. Juga seperti seorang fotografer menyerahkan pada mode “auto” kameranya untuk menyelaraskan fokus, aperture, iso, dan speed, sehingga ia bisa berkonsentrasi pada sudut pandang dan timing terbaik.
New York Times, salah satu media besar di Amerika Serikat, kini sudah membuat AI Agent. AI Agent adalah tingkatan lebih lanjut dari AI biasa, di mana mereka bisa berpikir dan bertindak secara mandiri tanpa perlu informasi atau perintah awal dari manusia.
Untuk New York Times, AI Agent di laman portal mereka berfungsi seperti mesin pencari Google, namun sumbernya adalah seluruh berita resmi yang sudah terverifikasi dan kredibel.
Dewan Pers juga tak ketinggalan dengan perkembangan zaman lewat aturan Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik. Artinya, kecerdasan imitasi sungguh tidak dilarang untuk digunakan. Penulis buku Disrupsi AI: Ketika Jurnalisme Dibajak Algoritma, Apni Jaya Putra, bahkan telah mendalami seluk beluk antara AI dan media massa dan mengimplementasikan AI dalam saluran medianya.


















