MATASEMARANG.COM – Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menilai persoalan utama dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Demak bukan sekadar menu, melainkan ketepatan distribusi dan waktu konsumsi makanan.
Dia juga menekankan pentingnya edukasi kepada penerima manfaat, khususnya anak-anak dan santri agar tidak menunda konsumsi makanan.
Pihak sekolah dan pesantren juga diminta aktif membimbing siswa agar segera mengonsumsi makanan yang disediakan negara.
“Biasanya yang keracunan itu karena pengaturan jadwalnya kurang tepat. Makanan ada masa konsumsinya, jadi harus diantarkan tepat waktu dan langsung dimakan,” ujar Taj Yasin, Selasa 21 April 2026.
Taj Yasin menegaskan pemerintah tidak akan ragu memberikan sanksi kepada penyedia layanan MBG yang lalai, mulai dari pembinaan hingga pencabutan izin operasional dapur.
“Sudah ada kasus penutupan dapur di Jawa Tengah. Ini peringatan keras,” katanya.
Sebelumnya, ratusan santri di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG pada Sabtu 18 April 2026.
Gejala muncul Minggu pagi dengan keluhan sakit perut, pusing, mual, hingga muntah.
Total korban diperkirakan mencapai 187 orang, termasuk kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Hingga Senin, 68 orang masih dirawat inap, sementara 66 lainnya menjalani rawat jalan.
Menindaklanjuti kejadian ini, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lokasi dihentikan sementara dan dipasang garis polisi.


















