MATASEMARANG.COM – Begitu melihat saya berada di depan pintu masuk Masjid Al-Hikmah, New York, Amerika Serikat, seorang anggota jamaah langsung menawarkan untuk masuk.
“Wah, terima kasih, Pak. Namun, saya bukan Muslim, apakah bisa?” ujar saya memastikan.
Diiringi senyum, laki-laki itu menjawab, “Masjid ini terbuka untuk semua orang”.
Saya menjadi yakin dan mengikuti langkahnya. Kami mengarah ke sebuah ruang makan mini di pojok masjid.
“Ini ada pizza, karena kebetulan tadi ada acara. Kalau mau kopi atau teh, ada juga. Silakan, silakan,” tutur dia.
Seketika, muncul kehangatan dalam pertemuan tersebut. Pembicaraan pun mengalir akrab, sampai akhirnya saya disambut oleh Imam Masjid Al-Hikmah, Rasul Amin.
Rasul, pria asal Sulawesi Selatan, menyapa dengan sikap kekeluargaan khas Indonesia.
“Selamat datang, Mas, di Masjid Al-Hikmah,” kata dia.
Rasul begitu antusias ketika menjelaskan soal Masjid Al-Hikmah, yang dikelola oleh Komunitas Muslim Indonesia dan beralamat di 48-01 31st Ave, Astoria, New York 11103.
Meski dijalankan oleh komunitas Indonesia, jamaah masjid tersebut bukan cuma orang Indonesia, tetapi juga datang dari negara lain seperti Amerika Serikat, Pakistan, Bangladesh dan India.
“Masjid ini bisa menampung sekitar 700 orang,” ujar Rasul.
Nyaris 31 tahun sudah Masjid Al-Hikmah dan Komunitas Muslim Indonesia bergerak mengenalkan keramahan Islam di Amerika Serikat (AS), khususnya New York.
Bangunan Masjid Al-Hikmah, masjid Indonesia pertama di AS itu awalnya adalah bekas gudang yang dibeli oleh The Indonesian Muslim Community, Inc (IMCI) pada pertengahan tahun 1990-an.


















