- Animo besar masyarakat menuntut ilmu hingga perguruan tinggi belum dibarengi dengan kemampuan kampus mencetak lulusan yang cakap sesuai kebutuhan pasar kerja
- Banyak kampus membuka program studi tidak didasari kebutuhan pasar tapi atas dasar investasi murah dan banyak peminat
- Di saat sama, makin banyak bidang kerja yang kini diambil alih oleh aplikasi atau kecerdasan buatan, terutama pekerjaan yang bersifat rutin
MATASEMARANG.COM – Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Mei 2026 mengungkapkan jumlah pengangguran sarjana mencapai satu juta lebih. Tepatnya 1.033.182 orang! Mereka adalah yang berlatar belakang S-1, sarjana terapan, S-2, bahkan S-3.
Laporan LPEM FEB UI pada Juli 2026 mengungkapkan sekitar delapan juta sarjana bekerja sedapatnya. Data ini bisa dibaca jutaan sarjana itu termasuk S-2 dan S-3 bekerja di bawah kualifikasi pendidikan terakhirnya. Karena lapangan kerja yang tersedia untuk mereka sangat terbatas, akhirnya mereka bekerja sedapatnya. Bisa saja terpaksa jadi pengemudi ojol hingga buka lapak seadanya.
Animo kuliah ke pendidikan tinggi selama tiga dekade terakhir ini memang melonjak. Pasar yang luar biasa besar ini disambut oleh para pengusaha pendidikan. Mereka berlomba-lomba membuka perguruan tinggi. Banyak di antaranya tidak didukung finansial memadai dan SDM (dosen) yang kompeten. Jalan pintas yang sering diambil PTS-PTS itu adalah membuka program studi yang modalnya rendah, seperti prodi humaniora.
Di tengah melimpahnya sarjana pendidikan, sarjana hukum, dan keagamaan, misalnya, banyak PTN dan PTS yang agresif menerima mahasiswa prodi-prodi tersebut dalam jumlah besar. PTS-PTS juga tumbuh bak jamur di musim hujan hingga di kabupaten-kabupaten. Karena tidak mendapatkan bekal memadai dari bangku kuliah, alhasil ketika mereka lulus tidak diserap pasar. Akhirnya mereka bekerja sedapatnya.
Kondisi itu diperparah dengan PTN-PTN berstatus BHN yang harus mencari anggaran mandiri untuk memenuhi kebutuhan yang tidak sepenuhnya lagi dibiayai oleh APBN. Mereka menambah jumlah besar-besaran mahasiswa baru demi mendapatkan tambahan pemasukan tanpa menghiraukan daya serap pasar.

















