Oleh Prof Ali Saukah *
MATASEMARANG.COM – Selama lebih dari dua dekade, perguruan tinggi di Indonesia didorong meningkatkan produktivitas penelitian melalui publikasi ilmiah. Makin banyak karya ilmiah diterbitkan–terutama pada jurnal pengindeks bereputasi–kian dianggap produktif pula seorang dosen.
Kebijakan tersebut pada awalnya dapat dipahami. Indonesia memang perlu membangun budaya penelitian dan meningkatkan kehadiran ilmuwan Indonesia dalam percakapan akademik dunia.
Publikasi pada jurnal ilmiah yang bereputasi juga tetap penting karena memungkinkan hasil penelitian diperiksa sejawat, diketahui komunitas ilmiah, dikembangkan lebih lanjut, dan dimanfaatkan oleh komunitas.
Masalah muncul ketika publikasi tidak lagi diperlakukan sebagai sarana untuk menyebarluaskan kontribusi ilmiah, tetapi berubah menjadi mata uang untuk karier akademik. Dosen dituntut memenuhi jumlah artikel tertentu. Artikel diarahkan ke jurnal tertentu. Jurnal dipilih berdasarkan indeks dan kuartilnya, sitasi dihitung.
Semua, kemudian dikonversikan menjadi angka untuk kenaikan jabatan. Akibatnya, pertanyaan yang semestinya menjadi inti kegiatan ilmiah; apa yang ditemukan, apa yang baru, apa yang berubah, dan siapa yang memperoleh manfaat? tergeser oleh keperluan administratif menjadi: berapa artikel yang sudah terbit dan di jurnal mana?
Menjadi Komoditas?
Ada paradoks dalam sistem ini. Penelitian perlu tetapi indikator yang terlalu menekankan jumlah publikasi dapat mendorong perilaku yang justru menjauh dari mutu. Artikel yang diterbitkan belum tentu dibaca. Artikel yang dibaca belum tentu digunakan. Artikel yang disitasi belum tentu karena memiliki kebaruan yang kuat. Jumlah publikasi dan sitasi bukan berarti kontribusi tinggi.


















