Karier Dosen: Apa Guna Publikasi bila Tak Berkontribusi?

Dosen mengajar
Ilustrasi dosen mengajar. AI/Qwen

Kontribusi dosen tersebut tidak berhenti pada jumlah artikel yang ditulisnya. Kontribusinya menghasilkan manusia yang kemudian menghasilkan ilmu dan karya baru.

Seorang profesor dapat menghasilkan 10 doktor. Doktor-doktor itu kemudian menjadi dosen dan peneliti. Mereka membimbing ratusan mahasiswa dan menghasilkan ribuan lulusan. Sebagian di antara mereka kelak menjadi profesor dan ilmuwan yang menghasilkan pengetahuan baru.

Terjadilah efek berganda yang luar biasa. Oleh karena itu, pertanyaan untuk calon guru besar tidak seharusnya hanya: Apa yang sudah kamu terbitkan? Tetapi juga: Akademisi atau profesional mana saja yang sudah kamu hasilkan? Dan juga: Siapa saja yang mengikuti jejakmu sebagai akademisi?

BACA JUGA  Tinggal Menyisakan Perampok dan Pengemis?

Menghasilkan ilmuwan dan profesional unggul adalah bentuk kontribusi dosen yang sangat penting: kontribusi terhadap ilmu melalui pengembangan manusia yang akan meneruskan ilmu tersebut. Bukan berarti seseorang cukup mengajar dengan baik lalu otomatis menjadi guru besar.

Bacaan Lainnya

Jalur pendidikan harus tetap menuntut penguasaan bidang ilmu, kontribusi akademik yang dapat dibuktikan, pengakuan komunitas keilmuan, dan evaluasi sejawat yang ketat. Hal yang perlu diadopsi adalah pengakuan bahwa kontribusi akademik mempunyai lebih dari satu bentuk.

BACA JUGA  "Banteng" Kota Semarang di Persimpangan: Perjudian Struktur Baru dan Risiko Deelektoralisasi

Untuk kenaikan jabatan akademik, terutama menuju guru besar, mungkin sudah waktunya mengganti dominasi daftar publikasi dengan academic contribution portfolio yang dapat menunjukkan berapa hal.

Pertama, apa pengetahuan baru yang dihasilkan? Kedua, apa yang dikembangkan dalam pendidikan dan pembelajaran? Ketiga, ilmuwan dan profesional unggul siapa saja yang berhasil dikembangkan?

Pos terkait