Karier Dosen: Apa Guna Publikasi bila Tak Berkontribusi?

Dosen mengajar
Ilustrasi dosen mengajar. AI/Qwen

Karena publikasi menjadi syarat administratif untuk kenaikan jabatan, terbentuklah pasar yang tidak selalu sehat. Muncul jasa penulisan, jasa publikasi, jual-beli kepengarangan, manipulasi sitasi, hingga jurnal predator dan paper mills (jaringan jual beli karya ilmiah secara tidak etis).

Penelitian yang seharusnya merupakan kegiatan intelektual untuk menemukan dan memecahkan masalah dapat berubah menjadi produksi komoditas akademik. Insentif yang dibangun oleh sistem dapat mempengaruhi perilaku orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Oleh karena itu, yang perlu diperbaiki bukan semata-mata perilaku dosen, melainkan desain kebijakannya. Sudah waktunya ada perubahan orientasi dari memperbanyak publikasi menjadi memperbesar kontribusi.

BACA JUGA  Konstruksi Ketakutan dan Dialog Mistika: Mengurai Benang Merah Teror Pocong, Ninja, dan Kolor Ijo

Pertanyaannya bukan lagi, “Berapa artikel yang Anda terbitkan?” melainkan “Apa yang telah Anda kontribusikan?” Kontribusi dapat berupa penemuan ilmu baru, teori atau model baru, metode atau instrumen baru, data penting, teknologi, inovasi, pemecahan masalah masyarakat, pengembangan kebijakan, perubahan praktik profesional, maupun pengembangan pendidikan.

Bacaan Lainnya

Seorang dosen yang menghasilkan satu karya yang benar-benar mengubah cara bidang ilmunya memahami suatu persoalan tidak seharusnya dianggap kurang produktif dibandingkan dengan dosen yang menghasilkan banyak artikel tetapi minim kontribusinya.

BACA JUGA  Tips Memilih dan Mengombinasikan Warna Interior Rumah agar Terasa Nyaman

Perubahan paradigma ini menjadi sangat penting dalam sistem kenaikan pangkat dan jabatan fungsional dosen. Dosen tetap harus menunjukkan kegiatan penelitian dan tetap perlu mengomunikasikan hasilnya secara ilmiah tetapi tidak harus semua dosen dipaksa menghasilkan jumlah artikel yang sama, pada jenis jurnal yang sama, dan dengan indikator yang sama.

Sistem penilaian akademik dosen perlu diperluas. Bayangkan seorang dosen yang selama puluhan tahun mengembangkan pembelajaran, membimbing mahasiswa S1, S2, dan S3, melahirkan guru, dosen, peneliti, dokter, insinyur, profesional, atau ilmuwan yang kemudian memberikan kontribusi besar kepada masyarakat.

Pos terkait