Tinggal Menyisakan Perampok dan Pengemis?

MATASEMARANG.COM – Nyaris tidak ada sisa-sisa hidup sederhana dan berani menderita dari para penikmat kekuasaan hari ini, sebagaimana diwariskan para pendiri bangsa. Nama-nama Mohammad Hatta, IJ Kasimo, Agus Salim, hingga Jenderal Polisi Hoegeng sepertinya hanya layak dikenang. Itu pun cuma sesekali ketika ada seremoni Hari Kebangkitan Bangsa dan Hari Antikorupsi.

Setiap hari kita sekarang ini membaca berita perkara korupsi dengan segala modus dan variannya. Mulai dari cara kasar seperti memalak di pinggiran jalan hingga kejahatan kerah putih yang melibatkan orang pintar, berkuasa, sekaligus sudah kaya raya.

BACA JUGA  Perampok Indomaret di Banyumanik Ditangkap Warga

Kita kian tidak heran lagi bila makin banyak kepala daerah mencuri dan memeras. Hari ini, 10 Juli 2026, KPK mengumumkan menangkap Bupati Sukoharjo Etik Suryani karena memeras para pejabat.

Bacaan Lainnya

Penggeledahan belasan lokasi oleh polisi dengan sitaan puluhan kilogram emas dan duit puluhan miliaran rupiah dengan beragam mata uang asing itu hanya menegaskan bahwa orang-orang kaya dan punya kuasa tidak akan pernah kenyang. Kata Gandhi, Bumi seisinya tidak akan pernah cukup bagi satu orang yang serakah.

BACA JUGA  Dana RT Rp25 Juta Bukan Sekadar Pemenuhan Janji Politik

Oleh karena itu, kepada mereka, jangan pernah tanya prinsip Haji Agus Salim bahwa leiden is lijden atau memimpin adalah menderita.

***

Politik–setelah Reformasi– sudah dan terus-menerus bermemorfosis menjadi alat pengakumulasian kekuasaan untuk merampok. Bukan hanya di hilir, tetapi juga di hulunya ketika undang-undang mulai dipersiapkan untuk kepentingan sekelompok orang kaya dan berkuasa. Korupsi di BGN memperjelas betapa kerusakannya sedemikian sistematis.

Pos terkait