Makin terkikisnya mekanisme demokrasi check and ballance hanya memperjelas fakta bahwa segenap pilar demokrasi: eksekutif, legislatif, dan yudikatif merupakan ruang-ruang gelap yang dengan mudah dimainkan para aktor kotor untuk korupsi. Begitu banyak aktor dari tiga pilar itu yang terseret korupsi. Namun, tidak ada jaminan bahwa permainan itu segera berakhir. Pun hari ini.
Mereka ini seperti ikan sapu-sapu. Berkulit tebal dan kasar. Mereka nyaman hidup di ekosistem busuk dan beracun. Berapa pun banyak dijaring, sapu-sapu tak akan tersapu habis dari sungai kotor. Ekosistem kotor dan ketiadaan predator menjadikan sapu-sapu tetap eksis bahkan berbiak.
Pada lanskap yang sama, kita juga menyaksikan orang makin tidak malu mengemis. Baik terang-terangan menengadahkan tangan seperti orang mampu yang menuntut dapat bansos maupun orang-orang yang menyodorkan proposal dengan stempel gagah yayasan peduli kemanusiaan, pendidikan, dan kesehatan.
Tentu saja transaksi itu tidak gratis. Penjaja proposal itu punya kewajiban memobilisasi massa ketika musim pemilihan tiba atau ketika sang pemberi tersangkut perkara.
Bagi mereka, itu simbiosis mutualisme, namun itu racun bagi peradaban bangsa ini.
Atau, jangan-jangan kita sedang menjadi bangsa, yang oleh Emha Ainun Najib, tinggal menyisakan kaum perampok dan pengemis. ***


















