- Selama ini warga pakai air artetis yang dikelola yayasan, tapi kalau kemarau airnya sedikit, kadang mati
MATASEMARANG.COM – Warga RT 07 RW 10 Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang selama 2 bulan terakhir ini mengalami krisis air bersih.
Hal ini disampaikan Ketua RT 07 Sohibul Adib. Sejak mengalami krisis air bersih, warganya hanya bisa meminta air dari pondok pesantren terdekat atau harus berjalan ke sungai yang berjarak 700 meter dari permukiman.
Diiakui Adib, debit air sungai pun kecil bahkan cenderung keruh karena adanya proyek galian di atas aliran sungai.
“Ya selama ini ambil dari sungai untuk mencuci tapi airnya kotor karena ada galian di atasnya, debit air juga kecil. Kami juga mengambil air dari pondok pesantren dekat sini, gratis,” kata Adib, Selasa, 18 Agustus 2026.
Selama ini warga menggunakan air artetis yang dikelola oleh sebuah yayasan. Namun, saat musim kemarau seperti ini, debit air juga berkurang bahkan terkadang sama sekali tidak mengalir.
“Selama ini pakai artetis itu dikelola yayasan, tapi kalau kemarau airnya sedikit, kadang mati,” ujarnya.
Bantuan BPBD
Adapun untuk masak dan minum, warga harus membeli air galon. Oleh karena menipisnya debit air bersih, pihaknya meminta bantuan air bersih kepada Pemerintah Kota Semarang melalui Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD).
“Alhamdulillah bisa membantu kami, kalau bisa sebulan 4 sampai 5 kali dikirim tangki air bersih. Ini mungkin bisa dipakai 2 hari,” tuturnya.
Staf Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Semarang Sugiharto menjelaskan bahwa laporan permintaan air bersih di RT 07 RW 10 Kelurahan Meteseh ini sudah masuk ke BPBD pada Senin 17 Agustus 2026 sore.


















