Dinkes Semarang: Partikel Halus PM2.5 dari Asap TPA Jatibarang Berbahaya

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang M Abdul Hakam. (matasemarang.com/Lia dina)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang M Abdul Hakam. (matasemarang.com/Lia dina)
  • Bahaya partikel halus dari asap kebakaran TPA Jatibarang tidak hanya bau tapi juga berbahaya bagi kesehatan
  • Masyarakat diimbau untuk segera mengisolasi ruang dalam rumah ketika kepulan asap mulai tercium menyengat

MATASEMARANG.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengingatkan masyarakat bahwa paparan kabut asap akibat kebakaran TPA Jatibarang tidak bisa dianggap sekadar gangguan aroma atau keterbatasan jarak pandang semata. 

Secara medis, asap pembakaran sampah menyimpan potensi bahaya dari kandungan partikulat halus atau PM2.5.

BACA JUGA  5 Daerah Paling Rawan Kebakaran di Kota Semarang

Kepala Dinkes Kota Semarang M. Abdul Hakam menjelaskan bahwa material yang terbakar di area penampungan sampah sangat beragam, sehingga hasil pembakarannya menghasilkan campuran berbagai partikel dan gas berisiko tinggi.

Bacaan Lainnya

“Dari perspektif kesehatan masyarakat, perhatian kita bukan hanya terhadap bau atau berkurangnya jarak pandang. Asap merupakan campuran berbagai partikel dan gas. Salah satu komponen utama yang menjadi perhatian serius adalah partikulat halus PM2.5 yang ukurannya sangat kecil sehingga bisa meresap jauh ke dalam saluran pernapasan,” kata Hakam, Kamis, 1 Oktober 2026.

BACA JUGA  Disambati Nelayan, Wali Kota Semarang Janji Bantu Mereka Dapat Penghasilan

Mengingat sifat materi pembakaran yang bervariasi, Pemkot Semarang menerapkan prinsip kehati-hatian (precautionary principle) dalam mengantisipasi dampak lingkungan. Pemantauan terhadap kualitas udara dan kesiapsiagaan faskes terus berjalan seiring upaya pemadaman di lapangan.

Hakam mengatakan guna mencegah partikel halus tersebut masuk ke dalam lingkungan tempat tinggal, masyarakat diimbau untuk segera mengisolasi ruang dalam rumah ketika kepulan asap mulai tercium menyengat.

“Tutup akses masuk udara dari luar dan kurangi aktivitas fisik berat. Asap yang membawa PM2.5 dapat memicu iritasi saluran pernapasan, reaksi alergi, hingga memperburuk kondisi penderita penyakit bawaan,” paparnya.

Pos terkait