Pemkot Dukung Tanggul Laut Teluk Semarang Jadi Solusi Jangka Panjang Atasi Rob

  • Pemkot Semarang berikan dukungan dalam penanaman jangka panjang untuk masalah rob dan banjir melalui pembangunan tanggul teluk laut Semarang

MATASEMARANG.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mendukung pelaksanaan Konsultasi Publik Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Pembangunan Tanggul Laut (Giant Sea Wall) Teluk Semarang Tahap 1 yang digelar di Aula Balai Kota Semarang, Jumat, 2 Oktober 2026.

Proyek tersebut diharapkan menjadi bagian dari penanganan jangka panjang persoalan rob, penurunan tanah, dan abrasi yang selama bertahun-tahun dihadapi masyarakat pesisir Kota Semarang.

BACA JUGA  Siap-Siap! Puncak El Nino di Semarang Diperkirakan Juli – Agustus 2026

Dukungan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin saat mewakili Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng dalam kegiatan tersebut. 

Bacaan Lainnya

Konsultasi publik dihadiri Tenaga Ahli Utama Pusat, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Tim Penyusun AMDAL dari Institut Pertanian Bogor (IPB), serta camat, lurah, dan tokoh masyarakat pesisir se-Kota Semarang.

BACA JUGA  Djoko Setijowarno: ASN Perlu Diwajibkan Pakai BRT Trans Semarang, Wali Kota Bisa Beri Contoh

Iswar melihat penanganan wilayah pesisir perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi yang selama ini dihadapi masyarakat. Penurunan tanah di Kota Semarang disebut mencapai sekitar 10 sentimeter per tahun. Di wilayah barat, seperti Kecamatan Tugu, masyarakat juga menghadapi abrasi yang membuat garis daratan semakin terdesak.

“Bertahun-tahun kita berjibaku tentang bagaimana kita tetap mempertahankan kota ini dengan penurunan 10 cm per tahun, dengan segala cara dan upaya. Warga masyarakat kita, terutama kawan-kawan yang ada di pesisir, sudah hidup dengan bagaimana kemudian beradaptasi dengan lingkungan,” ujar Iswar.

BACA JUGA  Sedekah Laut Wujud Jaga Ekosistem dan Syukur Manusia pada Alam

Adaptasi tersebut terlihat dari kehidupan warga yang terus menyesuaikan rumah dan lingkungan tempat tinggalnya dengan kondisi rob. Sebagian warga bahkan harus berulang kali meninggikan rumah agar tetap dapat dihuni. Kondisi tersebut menjadi gambaran persoalan pesisir yang telah berlangsung dalam waktu panjang.

Pos terkait