“Quo Vadis” Kampus?

Para pengelola perguruan tinggi terkesan tidak peduli terhadap nasib mahasiswanya setelah lulus. Orang tua mereka sudah mengeluarkan biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah, namun setelah lulus mereka akhirnya bekerja berstandar kualifikasi SLTA atau malah cuma jualan cilok di pinggir jalan. Indeks prestasi selangit yang diobral perguruan tinggi dengan harapan bisa membantu alumninya lulus seleksi kerja, itu tak lebih deretan huruf A dan B saja.

Harus diakui bahwa PT di Indonesia memang tertinggal jauh. Dari 4.000-an PTN dan PTS di Indonesia, tak ada satu pun yang masuk 100 besar PT terbaik dunia. Jargon “universitas berkelas dunia” yang didengungkan banyak PT tak lebih dari upaya menutup inferioritas.

BACA JUGA  Refleksi Akhir Tahun: Tidak Semua Hidup Harus Dirayakan

Pertanyaannya, untuk apa ribuan PT meluluskan jutaan sarjana kalau akhirnya mereka hanya jadi pengangguran terdidik atau hanya menjadi pekerja di sektor gig dan pedagang kaki lima?

Bacaan Lainnya

Jika lulusan kampus sebagian besar memang medioker dan unskilled, jangan pernah menyalahkan kalau user mempekerjakan mereka selevel tenaga kerja lulusan SLTA. ***

Pos terkait