MATASEMARANG.COM – Umat Buddha di Kabupaten Semarang memiliki cara yang unik dan sarat kearifan lokal dalam menyambut Hari Suci Asadha tahun ini.
Menggabungkan nilai spiritualitas dengan kehidupan agraris, warga mulai menggarap karya seni visual raksasa berupa citra Sang Buddha dengan media tanaman padi atau tradisi pari corek di atas hamparan sawah.
Adapun lokus pelaksanaan kegiatan berpusat di Lingkungan Sidorejo, Kelurahan Bergas Lor, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Hari Asadha sendiri merupakan salah satu momen paling sakral bagi umat Buddha untuk mengenang peristiwa Dhammacakkappavattana Sutta, yaitu momen pembabaran khotbah pertama Sang Buddha setelah mencapai Pencerahan Sempurna, di mana roda Dhamma mulai diputar untuk membawa ajaran kebijaksanaan serta kasih sayang.
Harmonisasi Nilai Dhamma dan Kehidupan Agraris
Perwakilan penyelenggara kegiatan, Romo Pujianto menjelaskan pemanfaatan media pari corek, seni menanam padi dengan varietas warna berbeda untuk membentuk gambar tertentu bukan sekadar menonjolkan estetika visual.
Aksi ini membawa pesan filosofis yang mendalam mengenai hubungan manusia dengan alam.
“Sawah dipandang sebagai sumber kehidupan fisik yang menopang pangan manusia, sedangkan ajaran Sang Buddha merupakan sumber kebijaksanaan yang menumbuhkan kedamaian batin,” terangnya.
Perpaduan keduanya merefleksikan bahwa kesejahteraan lahiriah harus berjalan beriringan dengan rasa syukur, kerja keras, dan praktik Dhamma sehari-hari.
“Sebagaimana benih padi yang dirawat dengan penuh kesabaran akan menghasilkan panen yang melimpah, demikian pula benih kebajikan yang ditanam dalam hati akan berbuah menjadi kedamaian, kebahagiaan, dan manfaat bagi semua makhluk,” tambahnya.


















