Tangani “Homesick” Siswa, Sekolah Rakyat Kerja Sama dengan Psikolog dari Unika

Suasana makan siang bersama di Sekolah rakyat Terintegrasi Kota Semarang (matasemarang.com/Lia Dina)
Suasana makan siang bersama di Sekolah rakyat Terintegrasi Kota Semarang (matasemarang.com/Lia Dina)

MATASEMARANG.COM — Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Kota Semarang yang terletak di Rowosari Kecamatan Tembalang sudah memulai tahun ajaran baru 2026/2027 dengan daya tampung 270 siswa yang terbagi dalam tiga jenjang yakni SD, SMP dan SMA.

Sejak Selasa, 14 Juli 2026, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dilakukan hingga 31 Juli 2026 nanti. Pada MPLS ini, sekolah berfokus pada adaptasi mental siswa sekaligus pemenuhan kebutuhan tenaga pendidik masa transisi.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi Ridho Irwanto mengakui bahwa beberapa hari pertama masa MPLS menjadi fase krusial bagi para siswa baru yang kini harus tinggal di asrama. Gejala homesick atau rasa rindu rumah dinilai sebagai hal yang wajar dalam proses adaptasi ini.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Cuaca Semarang 11 November 2025: Suhu Dingin, Hujan Ringan Siang hingga Malam

“Ini minggu kritis menurut saya, di mana anak pasti mengalami homesick karena kangen rumah. Ini adalah proses perlahan dan butuh dukungan (support), tidak hanya dari pihak sekolah tetapi juga dari orang tua yang kami harapkan terus mendukung kegiatan anak di sini,” kata Ridho, Kamis, 16 Juli 2026.

Ia juga menambahkan beberapa orang tua siswa terpantau sudah mulai datang menjenguk. Hal ini diharapkan juga mampu mengobati rasa rindu siswa pada orang tua di awal sekolah.

BACA JUGA  Cuaca Semarang Selasa 4 November 2025: Hujan Ringan Sore Hari, Waspadai Petir di Beberapa Wilayah

Guna mengantisipasi kendala psikologis anak asrama, Sekolah Rakyat bekerja sama dengan Unika Soegijapranata.

“Selain kunjungan insidental, terdapat program penempatan psikolog yang stand by di sekolah guna memantau perkembangan mental siswa,” katanya.

Terkait isu kekurangan guru, Ridho meluruskan bahwa kondisi tersebut tidak terlalu signifikan mengganggu kegiatan belajar-mengajar karena operasional kelas yang ada belum sepenuhnya berjalan dalam kapasitas ideal yakni 9 kelas. Meski demikian, pihak sekolah memerlukan tambahan guru bantu untuk sejumlah mata pelajaran khusus.

Pos terkait