MATASEMARANG.COM – Menanamkan kedisiplinan dan kemandirian pada anak di era digital saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua.
Hal inilah yang melatarbelakangi keputusan pasangan suami istri, Naryo dan Nur Harisatun, warga asal Kandri, kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, untuk memasukkan putra sulung mereka, Damar Naja Utomo (13), ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Kota Semarang.
Naryo mengungkapkan bahwa tujuan utama menyekolahkan anaknya di Sekolah Rakyat adalah agar sang anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, memiliki kepribadian yang baik dan sukses di masa depan.
Damar merupakan lulusan dari SD Kandri. Pada awalnya, Damar sempat menolak ketika hendak dimasukkan ke sekolah rakyat karena ia sebenarnya sudah diterima di SMP Negeri 22. Namun, setelah diberikan arahan dan nasihat oleh orang tuanya demi kebaikannya sendiri, Damar akhirnya bersedia.
Kesempatan untuk bersekolah di Sekolah Rakyat ini awalnya datang dari informasi pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Nur Harisatun menceritakan bahwa pihak PKH memberikan penawaran dengan menyebutkan nama-nama calon anak yang bisa masuk ke sekolah tersebut, lalu mengembalikan keputusan sepenuhnya kepada orang tua apakah mereka tertarik atau tidak.
“Ditawarin, terus si anak ditawarin, mau enggak? Awalnya menolak. Tapi demi kebaikan anak itu sendiri, kami diarahkan, dikasih pengertian. Akhirnya mau anaknya,” kata Nur Harisatun kepada matasemarang.com, Kamis, 16 Juli 2026.
Salah satu alasan kuat orang tua memilih Sekolah Rakyat adalah karena sistemnya yang berasrama. Di era digital sekarang, orang tua mengaku khawatir dengan pengawasan anak di rumah yang sering kali tidak terkontrol, terutama dalam penggunaan ponsel sehari-hari.


















