Putus Sekolah Akibat “Bullying”, Nurul Bangkit dan Temukan Senyum di Sekolah Rakyat

Siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi Kota Semarang Nurul (matasemarang.com/ Lia Dina)
Siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi Kota Semarang Nurul (matasemarang.com/ Lia Dina)


MATASEMARANG.COM – Menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat memberikan kesan dan pengalaman baru bagi Nurul, seorang siswi yang kini tengah bersiap naik ke kelas 2 SMA (kelas 11).

Nurul, yang baru bergabung sejak bulan Januari lalu di Sekolah Rakyat rintisan yang bertempat di Balai Latihan Kerja (BLK) sebelum akhirnya pindah ke sekolah yang baru di Rowosari, Tembalang, membagikan kisahnya menjalani kehidupan sebagai siswi berasrama.

Saat pertama kali pindah ke lokasi Sekolah Rakyat yang berada di Rowosari, Nurul mengaku sempat terkejut karena ukuran sekolahnya yang jauh lebih besar. Meski demikian, ia merasa lingkungan baru ini sangat seru.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Kemarau, Debit Air Sumur Warga Plumutan Mulai Turun

“Rasanya kaget saja ini lebih gede, tapi kayaknya seru juga,” kata Nurul saat diwawancarai, Kamis, 16 Juli 2026.

Menurut Nurul, sistem pembelajaran di Sekolah Rakyat sebenarnya sama seperti sekolah formal pada umumnya. Perbedaan utamanya terletak pada sistem asrama, di mana para siswa tinggal di dalam asrama dan tidak pulang ke rumah.

Tinggal jauh dari keluarga tentu menyisakan rasa rindu. Nurul mengaku sering merasa kangen dengan orang tuanya. Namun, rasa rindu tersebut terobati melalui jadwal kunjungan rutin yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah.

BACA JUGA  SMK Muhammadiyah Pekalongan Ubah Sampah Plastik Jadi BBM

“Ada jadwalnya sendiri, sebulan satu kali,” kata Nurul.

Saat berkunjung, orang tua Nurul biasanya membawakan makanan ringan serta perlengkapan sehari-hari yang sudah habis. Selama di asrama, para siswa memang tidak diperbolehkan keluar, kecuali jika ada agenda khusus seperti study tour atau acara luar lainnya.

Pos terkait